Etika Penelitian

Free
6 students

0 ratings


Modul 1 : Sejarah dan Etika

Sejarah pengembangan peraturan tentang etika penelitian yang melibatkan manusia sebagai subyek penelitian dilatarbelakangi oleh tragedi masa lalu yang terjadi pada penelitian bidang biomedis, sosial dan perilaku. Untuk itu, peraturan tentang etika penelitian saat ini telah merefleksikan pertimbangan-pertimbangan sosial sebagai berikut:
  1. Pentingnya menentukan persyaratan prinsip-prinsip dasar etika yang mendasari keterlibatan manusia sebagai subyek penelitian.
  2. Kebutuhan akan kajian penelitian yang independen dan objektif.
  3. Kebutuhan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap penelitian yang melibatkan manusia.

A. Sejarah Perkembangan Penelitian

Peristiwa sejarah penelitian bidang biomedis, sosial dan perilaku di bawah ini merupakan tonggak sejarah yang melatarbelakangi lahirnya sejumlah pengaturan tentang etika penelitian yang melibatkan manusia sebagai subyek penelitian.

1.Tonggak Sejarah Penelitian

Penelitian bidang biomedis
Di tahun 1940-an, isu tentang etika penelitian yang melibatkan manusia sebagai subyek penelitian mendapat perhatian masyarakat luas untuk pertama kalinya. Hal itu ditandai dengan terungkapnya sejumlah proses penelitian yang dilakukan NAZI saat terjadi Perang Dunia II. Akibat tragedi itu lahirlah Nuremberg Code, yang berisi prinsip-prinsip etika yang mengatur keterlibatan manusia dalam penelitian.

Tindak lanjut dari Nuremberg Code, Asosiasi Kedokteran Internasional (World Medical Association) berkumpul kembali di Finlandia tahun 1964 untuk membuat Undang-Undang Etika Penelitian (Code of Research Ethics), yang dikemudian hari dikenal sebagai Declaration of Helsinki. Deklarasi ini merupakan penajaman isi dari Nuremberg Code untuk penelitian bidang kesehatan.

Dr. Henry K. Beecher, seorang ahli anestesi, pada tahun 1966, menulis artikel Ethics and Clinical Research yang memaparkan 22 contoh penelitian kontroversial terkait etika. Meskipun penelitian tersebut dilakukan oleh peneliti terkenal dan hasilnya sudah dipublikasikan di jurnal terkemuka. Artikel Beecher memainkan peranan penting dalam meningkatkan kesadaran para peneliti, masyarakat dan media terhadap masalah keterlibatan manusia sebagai subyek penelitian yang tidak etis (Beecher HK. NEJM 16 Juni, 1966).

Namun, secara bersamaan, ketika para peneliti dan otoritas penelitian sedang mengembangkan peraturan tentang etika, dunia masih dikejutkan kembali skandal yang dikenal dengan Tuskeegee Syphylis Study. Diprakarsai dan didanai oleh Public Health Service Amerika Serikat (PHS) tentang penyakit Sipilis (1932-1972), studi ini dirancang untuk mendokumentasikan sejarah sipilis pada pria Afrika-Amerika. Ratusan pria Afrika-Amerika miskin yang terinfeksi sipilis terlibat dalam studi ini. Para responden pria ini direkrut tanpa informed consent (persetujuan setelah penjelasan) dan dengan sengaja diberikan informasi yang salah mengenai kebutuhan untuk melakukan beberapa prosedur penelitian. Studi longitudinal ini bertahan sampai 40 tahun hingga akhirnya laporan surat kabar memaksa pemerintah AS untuk menghentikan studi tersebut. Untuk informasi lebih lanjut mengenai studi ini bisa dilihat pada tautan PHS Syphilis Study.

Penelitian bidang sosial dan perilaku

Tragedi masa lalu yang memalukan ini bukan monopoli dari ranah penelitian biomedis saja, namun, ditemukan juga pada penelitian bidang sosial dan perilaku. Tahun 1953, terjadi kasus Wichita Jury , misalnya. Peneliti dengan sengaja merekam komentar para anggota juri dalam enam kasus, yang bertujuan untuk mengukur pengaruh pengambilan keputusan para juri dari komentar-komentar para pengacara. Penelitian tersebut dilakukan tanpa izin dan sepengetahuan para anggota juri, namun hanya diketahui oleh hakim dan pengacara saja.

Penelitian Milgram tentang “obedience to authority” tahun 1963,dilakukan untuk melihat seberapa jauh subyek akan memberikan respon kejutan elektrik karena diperintah oleh pihak otoritas kepada subyek lain bahkan ketika subyek lain itu terlihat sangat kesakitan tapi terus gagal dalam menjawab pertanyaan.

Di tahun 1970-an, ada penelitian Humphreys tentang “tearoom trade”. Penelitian ini melakukan observasi terhadap pria yang melakukan aktivitas seksual di toilet tanpa diketahui responden, lalu diikuti sampai ke mobil, plat nomor mobilnya dicatat, dan mereka dilacak sampai ke rumah dan diwawancara mengenai isu yang sangat pribadi.

Penelitian Zimbardo tentang “stimulated prison” tahun 1973, menugaskan sukarelawan pelajar pria sebagai “narapidana” dan “penjaga”. Kekerasan fisik dan psikologis terhadap “narapidana” oleh “penjaga” terus terjadi dalam penelitian tersebut. Peneliti akhirnya menghentikan eksperimen/ simulasi tersebut setelah 6 hari. Lihat situs Dr. Zimbardo untuk informasi lebih lengkap mengenai penelitian ini.

2. Perkembangan Proses Regulasi

Atas terjadinya sejumlah tragedi pada penelitian-penelitian masa lalu menyebabkan keprihatinan semua pihak. Tahun 1973, Konggres USA mengadakan pertemuan untuk membahas Kualitas Layanan Kesehatan dan Eksperimentasi pada Manusia yang akhirnya menghasilkan Undang-undang Penelitian Nasional / National Research Act tahun 1974. Undang-undang ini memerintahkan kepada negara/pemerintah USA untuk :

  1. Mendirikan Komisi Nasional perlindungan terhadap subyek manusia pada Penelitian Biomedis dan Perilaku.
  2. Mempersyaratkan pendirian IRB (Institutional Review Board -atau di Indonesia dikenal sebagai Komite Etik). Lembaga independen ini di dukung oleh Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan AS (saat ini dikenal dengan Departemen Kesehatan dan Layanan Manusia) untuk masalah subyek penelitian manusia.
Tanggung jawab Komisi Nasional di atas adalah :
  1. Mengidentifikasi prinsip-prinsip dasar yang mendasari pelibatan manusia sebagai subyek penelitian.
  2. Mengembangkan panduan untuk memastikan bahwa penelitian yang melibatkan manusia dilakukan menurut prinsip-prinsip tersebut yang pada akhirnya akan melahirkan regulasi pemerintah AS saat ini.

B. Prinsip-prinsip Etika

1. Belmont Report

Setelah melalui kajian panjang, akhirnya Komisi Nasional mempublikasikan The Belmont Report pada tahun 1979. The Belmont Report mengidentifikasi 3 prinsip dasar etika yang mendasari semua penelitian yang melibatkan manusia sebagai subyeknya.

Prinsip-prinsip ini biasa dikenal dengan nama The Belmont Principles. Isi dari The Belmont Principles adalah:

  1. Menghargai manusia (respect for person).
  2. Kebermanfaatan (beneficence).
  3. Keadilan (justice).

Menghargai Manusia

Prinsip ini mengharuskan peneliti untuk memperlakukan individu sebagai manusia yang otonom, mampu membuat keputusan atau pilihannya sendiri dan untuk tidak menggunakan manusia sebagai alat. Prinsip ini juga memberikan perlindungan ekstra terhadap mereka yang otonominya terbatas.

Aturan yang diturunkan dari prinsip menghormati manusia mencakup :

  1. Persyaratan mengenai perolehan informed consent.
  2. Persyaratan mengenai penghormatan terhadap privasi subyek penelitian.

Kebermanfaatan

Prinsip ini menekankan pada perlunya peneliti untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan manfaat. Aturan yang diturunkan dari prinsip ini adalah :

  1. Persyaratan agar menggunakan desain penelitian terbaik yang dapat memaksimalkan manfaat dan mengurangi risiko.
  2. Persyaratan untuk memastikan peneliti dapat melaksanakan prosedur dan mengatasi risiko-risiko yang mungkin muncul.
  3. Penelitian tanpa hubungan risiko-manfaat yang menguntungkan tidak diperbolehkan.

Keadilan

Prinsip ini mengharuskan kita untuk memperlakukan manusia dengan adil dan untuk mendesain penelitian sedemikian rupa, sehingga beban dan manfaat menjadi seimbang. Aturan yang diturunkan meliputi :

  1. Pemilihan subyek dilakukan dengan cara yang layak
  2. Menghindari eksploitasi terhadap populasi yang rentan

Menyeimbangkan ketiga prinsip

Menyangkut implementasi dari tiga prinsip di atas, Komisi Nasional mendorong agar tiga prinsip tersebut memiliki dorongan moral yang sama. Artinya, dalam situasi tertentu, boleh jadi ketiga prinsip itu, akan berkonflik satu dengan lainnya. The Belmont Report menyatakan bahwa satu prinsip tidak selalu lebih berat dari prinsip yang lain. Kita lebih diminta untuk mempertimbangkan tiap kasus secara terpisah, berdasarkan kelebihan dan kekurangannya untuk memenuhi ketiga prinsip tadi.

2. Panduan etika lainnya

Di negara Amerika Serikat, asosiasi profesional ilmu sosial dan perilaku telah mengadopsi panduan etika untuk pelaksanaan penelitian dengan subyek manusia, yang meliputi:

  1. American Psychological Association.
  2. American Sosiological Assosiation.
  3. American Anthropological Association.
  4. The Oral History Association.
Panduan-panduan di atas menyediakan tuntunan etika yang harus disiplin mentaati agar dapat membantu anggota IRB (Etik Komite) dan peneliti dalam melaksanakan penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial ataupun perilaku.

Course Curriculum

  • Materi & Quiz 

    0/8
    • Modul 1 : Sejarah dan Etika
      Preview
    • Kuis (Sejarah dan Etika)
    • Modul II : Tinjauan Peraturan
    • Kuis (Tinjauan Peraturan)
    • Modul III : Prinsip-Prinsip Penelitian
    • Kuis ( Prinsip Prinsip Penelitian)
    • Modul IV : Subyek–subyek Rentan
    • Kuis (Subyek-subyek Rentan)